KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Musyawarah Provinsi (Musprov) VIII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Tenggara yang digelar di Kendari, Sabtu (14/2/2026), menjadi titik krusial penentuan arah dunia usaha lima tahun ke depan. Di tengah dinamika ekonomi nasional dan global, forum ini menegaskan komitmen mendorong hilirisasi industri, memperkuat posisi pengusaha lokal, serta memperluas penciptaan lapangan kerja di daerah.
Mewakili Ketua Umum Kadin RI, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Erwin Aksa menekankan Musprov bukan sekadar agenda organisasi, tetapi momentum konsolidasi dan kebangkitan ekonomi Sulawesi Tenggara pascapandemi.
Ia mengingatkan bahwa Sultra memiliki modal besar, mulai dari kekayaan sumber daya alam, potensi maritim, energi pertumbuhan baru, hingga sumber daya manusia. Namun menurutnya, potensi tersebut tidak akan berarti tanpa langkah konkret menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan.
“Tantangan kita bukan lagi berbicara soal kekayaan alam, tetapi bagaimana menghadirkan investasi, membuka lapangan kerja, dan memastikan pengusaha lokal menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri,” tegasnya.
Erwin juga menyoroti peran strategis Kadin sebagai rumah besar dunia usaha dan mitra pemerintah. Ia mendorong organisasi yang solid, inklusif, dan visioner agar mampu menjawab kebutuhan UMKM untuk naik kelas serta memperkuat hilirisasi industri di daerah.
Isu hilirisasi Aspal Buton menjadi salah satu pembahasan utama. Ketua Umum Kadin Sultra Anton Timbang menjelaskan, sejak awal kepengurusan periode 2021–2026, pihaknya aktif mendorong komoditas unggulan tersebut masuk dalam proyek prioritas nasional.
Upaya itu membuahkan hasil setelah Badan Pengelola Investasi Danantara mengalokasikan dana Rp1,49 triliun untuk pembangunan industri Aspal Buton dengan estimasi penyerapan tenaga kerja mencapai 3.450 orang. Bahkan, dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Presiden Prabowo Subianto telah memasukkan proyek tersebut dalam 18 prioritas hilirisasi nasional.
“Ini bukan hanya soal industri, tetapi soal kemandirian infrastruktur dan pengurangan ketergantungan pada aspal impor. Potensinya besar dan manfaatnya langsung bagi daerah,” ujar Anton.
Ia menyebut, pemanfaatan Aspal Buton secara nasional dapat menghemat anggaran negara dalam jumlah signifikan sekaligus mendorong tumbuhnya industri turunan di Sultra.
Selain hilirisasi, Anton memaparkan capaian lima tahun kepengurusannya, termasuk penyelenggaraan Munas Kadin di Sultra di masa pandemi COVID-19, berbagai kegiatan sosial, serta kemitraan strategis dengan pemerintah daerah dan kementerian. Hingga kini, Kadin Sultra telah menjalin 40 kerja sama dengan perguruan tinggi, perbankan, jasa keuangan, media, hingga organisasi kemasyarakatan.
Sementara itu, Asisten III Pemprov Sultra Rony Yacob yang mewakili Gubernur menegaskan pentingnya mendorong keunggulan kompetitif melalui industrialisasi dan peningkatan kualitas SDM.
“Sultra memiliki nikel, aspal, pertanian, perikanan, dan pariwisata bahari yang kuat, namun perlu penguatan ekosistem investasi yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, berkomitmen menciptakan iklim usaha kondusif melalui reformasi birokrasi, penyederhanaan perizinan, peningkatan pelayanan publik, serta percepatan pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan, dan konektivitas digital.
Musprov ini juga menjadi forum evaluasi laporan pertanggungjawaban pengurus serta penetapan arah kebijakan organisasi ke depan. Harapannya, kepemimpinan yang terpilih mampu melanjutkan konsolidasi dan memperkuat peran Kadin sebagai penggerak ekonomi daerah.
Di tengah tuntutan pertumbuhan yang inklusif dan berkeadilan, Kadin Sultra ditantang tidak hanya menjadi representasi pengusaha, tetapi juga aktor transformasi ekonomi. Hilirisasi industri, kemitraan UMKM, serta peningkatan kualitas SDM menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab dengan program konkret dan terukur.
Musprov VIII Kadin Sultra menegaskan satu pesan utama: potensi besar daerah harus diolah menjadi nilai tambah nyata, agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat Sulawesi Tenggara.
Penulis: Sumarlin



