Penulis : Redaksi

Oleh: L.M.Ihsan Thamrin,S.Psi.,M.Psi (Praktisi Psikologi Positif Sultra)

KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Mudik Lebaran sering kali dipahami sebagai rutinitas tahunan, sebuah agenda pulang kampung yang identik dengan kemacetan, kelelahan, dan berbagai persiapan yang tidak sederhana. Namun, jika dilihat lebih dalam, mudik bukan sekadar perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah perjalanan batin yang secara perlahan mengembalikan sesuatu yang kerap hilang dalam keseharian:, yakni rasa keterhubungan, ketenangan, dan makna.

Sejak perjalanan dimulai, sebenarnya ada perubahan suasana dalam diri yang tidak selalu disadari. Di tengah kesibukan mempersiapkan barang, mengatur jadwal, hingga menghadapi perjalanan panjang, terselip perasaan hangat yang tumbuh pelan-pelan. Perasaan ini muncul dari kesadaran sederhana bahwa kita sedang menuju orang-orang yang memiliki tempat penting dalam hidup kita. Ada rindu yang selama ini tertahan, dan mudik menjadi jembatan untuk menyalurkannya.

Dalam keseharian, banyak orang hidup dalam ritme yang cepat, yang mana di dalamnya ada pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai tuntutan membuat kita terbiasa bergerak tanpa sempat benar-benar berhenti. Mudik menghadirkan jeda yang berbeda. Ia bukan sekadar libur, melainkan ruang untuk menurunkan ritme hidup. Saat berada di perjalanan, baik sendiri maupun bersama orang lain, kita sering kali menemukan momen hening yang jarang hadir dalam hari-hari biasa. Dari sinilah muncul kesempatan untuk kembali mendengarkan diri sendiri.

Baca Juga  STQH Nasional Digelar, Wajah Eks Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Kota Kendari Memesona “Simbol Kebangkitan Pariwisata Religius”

Ketika akhirnya sampai di kampung halaman, suasana yang dirasakan sering kali sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa lega, hangat, sekaligus haru yang bercampur menjadi satu. Bertemu orang tua, saudara, dan kerabat bukan hanya soal saling menyapa, tetapi tentang menghidupkan kembali ikatan yang mungkin sempat terasa jauh. Dalam pelukan sederhana atau sapaan hangat, ada pesan yang tidak diucapkan secara langsung: bahwa kita masih memiliki tempat untuk pulang.

Interaksi yang terjadi selama mudik sering kali tampak sederhana. Duduk bersama, berbincang santai, mengenang masa lalu, atau bahkan hanya berbagi cerita ringan. Namun justru dalam kesederhanaan itulah terdapat kekuatan yang besar. Hubungan yang mungkin terasa renggang perlahan kembali hangat. Kita merasa didengar, dipahami, dan diterima tanpa harus menjadi “sempurna”. Perasaan ini penting, karena tidak semua ruang dalam kehidupan sehari-hari mampu memberikan hal yang sama.

Mudik juga membuka ruang refleksi yang jarang muncul di tengah rutinitas. Ketika bertemu dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup, kita diingatkan pada banyak hal, tentang masa kecil, perjuangan, kegagalan, hingga pencapaian yang telah dilalui. Dari sana, muncul kesadaran bahwa hidup adalah rangkaian proses yang tidak selalu mudah, tetapi tetap layak disyukuri. Rasa syukur ini hadir bukan karena segalanya berjalan sempurna, melainkan karena kita masih diberi kesempatan untuk terus melangkah.

Baca Juga  Fairness dalam Aksi Demonstrasi Mahasiswa: Ketika Suara Keadilan Menjadi Energi Positif Perubahan

Selain itu, mudik memiliki dimensi spiritual yang kuat. Tradisi saling memaafkan yang menjadi bagian dari Lebaran bukan hanya formalitas, tetapi proses yang memberi kelegaan batin. Saat seseorang dengan tulus meminta maaf dan memberi maaf, ada beban emosional yang dilepaskan. Perasaan yang sebelumnya mengganjal perlahan menjadi ringan. Dalam momen ini, manusia diajak untuk kembali melihat hubungan dengan hati yang lebih jernih.

Perjalanan mudik juga mengajarkan tentang kehadiran. Di sepanjang jalan, ada banyak hal sederhana yang sebenarnya bisa dinikmati: pemandangan, percakapan, atau bahkan keheningan. Ketika kita benar-benar hadir dalam momen tersebut, perjalanan yang panjang tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan pengalaman yang bermakna. Ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering kali tidak terletak pada tujuan akhir, tetapi pada cara kita menjalani prosesnya.

Sesampainya di kampung halaman, berbagai aktivitas bersama keluarga dan kerabat memperkuat rasa kebersamaan. Mengunjungi rumah saudara, berkumpul dengan teman lama, atau sekadar duduk tanpa agenda khusus menjadi momen yang memperkaya pengalaman batin. Interaksi sosial seperti ini memberikan energi positif yang sering kali tidak kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari yang serba cepat dan individual.

Baca Juga  Perbedaan Dukungan Calon Gubernur dan Calon Bupati/Walikota dalam Pilkada Serentak, Dilematis Kader Partai atau Apatis?

Namun, yang paling berkesan dari mudik bukanlah kemeriahannya, melainkan kehangatan yang tertinggal setelahnya. Ketika masa mudik berakhir dan kita kembali ke rutinitas, ada sesuatu yang berubah dalam diri. Kenangan kebersamaan, doa dari orang-orang terdekat, serta rasa syukur yang tumbuh selama mudik menjadi bekal yang tidak terlihat, tetapi sangat terasa.

Mudik pada akhirnya bukan hanya tentang kembali ke tempat asal, tetapi juga tentang kembali kepada hal-hal yang mendasar dalam hidup, yang saya sebut hubungan, rasa syukur, dan ketenangan. Ia mengingatkan bahwa di tengah kesibukan dan tuntutan, manusia tetap membutuhkan ruang untuk terhubung dengan orang lain, dengan dirinya sendiri, dan dengan makna hidup yang lebih dalam.

Dari situlah mudik menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia adalah perjalanan yang mengembalikan rasa, “rasa dekat, rasa cukup, dan rasa bahwa kita tidak sendiri dalam menjalani kehidupan”. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bergerak cepat, hal sederhana seperti inilah yang justru paling kita butuhkan.(Red/No)

Visited 81 times, 81 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow