Penulis : Redaksi

Oleh: Kamal Rahmat

(Pegiat Ekonomi Kreatif di Sulawesi Tenggara)

MUNA, MITRANUSANTARA.ID – Di banyak daerah, kolang-kaling hadir sekadar sebagai pelengkap minuman manis. Ia muncul saat Ramadan, mengapung di antara sirup merah dan es batu, lalu kembali dilupakan ketika musim berganti.

Namun di Muna, kolang-kaling memiliki nama yang lebih akrab dan lebih membumi dengan sebutan Kowala. Orang Suku Muna menyebut pohon aren sebagai Kowala, dan buahnya dikenal sebagai buah Kowala. Sebuah penamaan yang menandakan kedekatan emosional dan sejarah panjang antara manusia dan alamnya.

Ironisnya, kedekatan itu belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan ekonomi.

Kowala Warisan yang Tumbuh Diam-Diam

Secara ilmiah, pohon aren dikenal sebagai Arenga pinnata. Tanaman ini mampu tumbuh di lahan perbukitan, di sela hutan, bahkan di tanah yang tidak terlalu subur. Di banyak desa di Muna, Kowala tumbuh tanpa perlu ditanam secara intensif. Ia hadir alami, seolah menjadi hadiah alam yang tidak pernah diminta, tetapi selalu ada.

Hampir seluruh bagian Kowala bermanfaat. Niranya bisa menjadi gula aren. Ijuknya berguna untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Batangnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan tradisional. Dan buahnya dapat diolah menjadi aneka kuliner yang memiliki nilai jual stabil, terutama saat bulan puasa.

Baca Juga  Sektor Pariwisata Mulai Pulih, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Sulawesi Tenggara Agustus 2025 Meningkat, Tetapi Tantangan Stabilitas Masih Menanti

Tetapi sampai hari ini, pengelolaannya masih bersifat tradisional, sporadis, dan belum terintegrasi dalam sistem ekonomi daerah.

Potensi Besar yang Belum Dilirik

Kolang-kaling dari buah Kowala sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Teksturnya kenyal, kandungan seratnya tinggi, dan pasarnya luas. Ia bisa diolah menjadi:

  • Manisan khas Muna
  • Produk kemasan modern siap saji
  • Campuran minuman kekinian
  • Bahan baku industri pangan
  • Oleh-oleh khas daerah

Namun realitas di lapangan berkata lain. Belum ada sentra produksi terpadu. Belum ada branding “Kolang-Kaling Muna.” Belum ada hilirisasi serius yang menjadikannya komoditas unggulan.

Kowala masih dipandang sebagai hasil kebun sampingan. Ia dijual mentah atau setengah olah, tanpa nilai tambah signifikan. Padahal jika dikelola secara sistematis serta dengan pelatihan, pendampingan UMKM, dan dukungan pemasaran digital, nilai ekonominya bisa berlipat ganda.

Antara Tradisi dan Ketertinggalan

Masyarakat Muna sesungguhnya tidak kekurangan pengetahuan tradisional. Mereka tahu cara mengolah buah Kowala. Mereka tahu kapan waktu panen yang tepat. Mereka tahu bagaimana menjaga kualitasnya.

Baca Juga  Pancasila Sakti, Korupsi Harus Mati

Yang belum hadir adalah intervensi kebijakan dan visi jangka panjang.

Di tengah gencarnya program penguatan ekonomi lokal dan kedaulatan pangan, Kowala seharusnya masuk dalam daftar prioritas. Ia bukan tanaman impor. Ia bukan komoditas yang harus didatangkan dari luar, akan tetapi, Ia tumbuh di tanah sendiri, di kebun sendiri, di hutan sendiri.

Namun sayangnya, potensi ini belum benar-benar dilirik sebagai kekuatan strategis daerah.

Jalan Panjang Menuju Kebangkitan Kowala

Bayangkan jika di Kabupaten Muna berdiri sentra pengolahan kolang-kaling modern.
Bayangkan jika ada label “Produk Asli Muna” yang menempel pada kemasan manisan Kowala.
Bayangkan jika generasi muda dilibatkan dalam inovasi produk dan pemasaran digitalnya.

Kowala bisa menjadi simbol kebangkitan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Ia bisa menjadi cerita sukses desa. Ia bisa membuka lapangan kerja. Ia bisa memperkuat identitas daerah.

Tetapi semua itu tidak akan terjadi jika Kowala terus diperlakukan sebagai tanaman yang tumbuh tanpa arti.

Kini pertanyaannya sederhana:
“Apakah kita akan membiarkan Kowala tetap menjadi cerita musiman?”
Ataukah kita mulai melihatnya sebagai jalan panjang menuju kedaulatan ekonomi lokal di Kabupaten Muna?

Baca Juga  MENILIK ETAPE LANJUTAN KOPDESKEL MERAH PUTIH di Bawah komando FERRY JULIANTONO

Karena bisa jadi, masa depan ekonomi daerah tidak selalu datang dari komoditas besar. Kadang ia tumbuh diam-diam, di balik rimbun pohon Kowala.

Visited 11 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow