JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Di tengah dinamika demokrasi yang kerap diwarnai kegaduhan dan politik panggung, sebuah buku berjudul “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung” hadir menawarkan perspektif berbeda tentang praktik berpolitik di Indonesia. Buku ini menyoroti sisi politik yang bekerja dalam senyap, tanpa sensasi, tanpa konflik terbuka, namun sarat dengan rasionalitas dan tanggung jawab kebangsaan.
Buku tersebut ditulis oleh jurnalis senior Joseph Osdar, sosok yang dikenal luas lewat rekam jejak panjangnya meliput Istana Kepresidenan sejak era Presiden Soeharto hingga Presiden Joko Widodo. Pengalaman tersebut menjadi fondasi kuat dalam menghadirkan pembacaan politik yang reflektif, kritis, dan berbasis fakta lapangan.
Dalam buku ini, Osdar menjadikan langkah-langkah politik Prabowo Subianto sebagai pintu masuk untuk membaca wajah lain demokrasi Indonesia, politik yang tidak selalu hadir di depan kamera, namun bekerja melalui keputusan-keputusan strategis yang sering kali tidak populer, tetapi berdampak besar bagi kepentingan nasional.
“Buku ini merekam bagaimana politik sesungguhnya bekerja. Tidak selalu di panggung besar dan tidak selalu melalui pernyataan keras. Politik akal sehat justru sering hadir dalam ruang-ruang sunyi,” ujar Osdar dalam keterangannya. Kamis (12/2/2026)
Osdar menegaskan, buku ini tidak dimaksudkan sebagai glorifikasi tokoh. Ia juga menjadikan Bambang Soesatyo (Bamsoet), politisi sekaligus wartawan senior, sebagai salah satu narasumber utama untuk memperkaya sudut pandang mengenai praktik politik yang mengedepankan etika, keseimbangan kelembagaan, dan kedewasaan elite.
Salah satu pesan sentral buku ini adalah pentingnya kemampuan mengelola perbedaan dalam demokrasi. Menurut Osdar, perbedaan pandangan merupakan keniscayaan, namun kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh cara elite politik menyikapinya.
“Demokrasi tidak rusak karena perbedaan, tetapi karena ketidakmampuan mengelola perbedaan. Politik tanpa panggung adalah politik yang berupaya menjembatani kepentingan demi stabilitas nasional, agar investasi tumbuh dan dunia usaha berkembang,” tegasnya.
Buku ini juga menyoroti relasi politik yang dibangun atas dasar saling menghormati peran dan fungsi kelembagaan. Hubungan politik yang sehat, menurut Osdar, tidak selalu harus ditunjukkan melalui koalisi formal atau pernyataan publik yang demonstratif, melainkan melalui kesamaan tujuan kebangsaan.
“Ketika tujuan nasional menjadi titik temu, ego personal dan kepentingan jangka pendek harus dikesampingkan,” jelasnya.
Lebih dari sekadar catatan politik, buku “Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung” juga menawarkan refleksi etis tentang kepemimpinan. Politik diposisikan bukan semata-mata sebagai perebutan kekuasaan, melainkan sebagai amanah konstitusional yang menuntut kedewasaan, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kepentingan bangsa.
Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkaya diskursus publik mengenai praktik politik yang sehat dan rasional, sekaligus menghadirkan alternatif narasi di tengah dominasi politik panggung dan polarisasi.
Sebagaimana pesan yang disarikan dalam buku tersebut, kepemimpinan pada hakikatnya adalah tentang merangkul, bukan memukul; mencari solusi, bukan sekadar simpati, akan tetapi sebuah pandangan yang menegaskan bahwa dalam politik, seribu kawan masih terlalu sedikit, sementara satu musuh sudah terlalu banyak.
Laporan: Novrizal R Topa



