Penulis : Redaksi

KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Ancaman perubahan iklim terhadap sektor kesehatan kini menjadi perhatian serius. Kota Kendari ditetapkan sebagai salah satu lokasi riset kolaborasi internasional Indonesia–Australia yang mengkaji ketahanan sistem kesehatan di wilayah pesisir dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Kegiatan ini dikemas dalam Workshop Koordinasi dan Sosialisasi PAIR Sulawesi Climate Health (CH) 3.2 bertema “Exploring Climate-Resilience Health System in Coastal Area Central Sulawesi and Southeast Sulawesi Province” yang berlangsung di salah satu hotel di Kendari, Selasa (3/2/2026). Riset ini melibatkan peneliti dari University of Melbourne, Universitas Hasanuddin, Universitas Airlangga, Universitas Tadulako, serta dukungan pemerintah daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, dr. Andi Edy Surahmat, menegaskan bahwa wilayah pesisir Sulawesi Tenggara sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim karena memiliki garis pantai panjang dan karakter kepulauan. Dampak tersebut tidak hanya terlihat dari sisi lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung pada pola penyakit dan kualitas hidup masyarakat.

“Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan sudah nyata, mulai dari potensi meningkatnya penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah dengue, risiko gangguan gizi, hingga tantangan akses air bersih dan sanitasi,” ujarnya.

Baca Juga  NDPR Desak Pemerintah Rumuskan Langkah Nyata Tekan Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Sultra

Menurutnya, penguatan ketahanan iklim dalam sistem kesehatan merupakan langkah strategis yang sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Upaya ini mencakup koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, hingga partisipasi aktif masyarakat dalam menghadapi risiko kesehatan berbasis iklim.

Associate Professor Dr. Ariane Utomo dari University of Melbourne selaku Partner Investigator menjelaskan, riset ini bertujuan mengidentifikasi tantangan sekaligus peluang dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih tangguh di wilayah pesisir. Untuk Sulawesi Tenggara, penelitian akan difokuskan di Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Konawe Utara.

Pengumpulan data lapangan dijadwalkan berlangsung pada 4–13 Februari 2026 melalui diskusi kelompok terfokus di puskesmas dan rumah sakit, serta wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan di sektor kesehatan dan perencanaan pembangunan.

“Hasil akhir riset ini tidak hanya berupa publikasi ilmiah, tetapi juga policy brief dan modul pelatihan praktis yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah,” jelas Dr. Ariane.

Workshop ini dihadiri unsur Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, rumah sakit rujukan, serta perwakilan pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah Kota Kendari menyatakan dukungannya terhadap kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat pembangunan kesehatan yang adaptif dan berkelanjutan.

Baca Juga  61 CPNS Baru Gabung di Pemkot Kendari, Wali Kota: Tunjukkan Dedikasi Kalian

Melalui riset ini, diharapkan lahir peta jalan penguatan sistem kesehatan pesisir yang mampu merespons risiko perubahan iklim secara lebih terukur, mulai dari surveilans penyakit berbasis iklim, rencana kontinjensi kesehatan, hingga integrasi risiko iklim dalam perencanaan pembangunan daerah.

Penulis: Sumarlin

Visited 39 times, 39 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow