KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Di balik aroma arang tempurung kelapa yang mengepul dari dapur-dapur tradisional, tersimpan kisah ketekunan, keberanian, dan mimpi besar anak-anak muda Sulawesi Tenggara. Siapa sangka, limbah kelapa yang dulu dipandang sebelah mata, kini menjadi komoditas bernilai tinggi yang menembus pasar ekspor Cina dengan permintaan mencapai 2.000 ton per bulan.
Kisah ini bermula dari langkah sederhana namun penuh keyakinan yang diambil Jafal Nur Sawal, putra asli Desa Wabintingi, Kecamatan Loghiya, Kabupaten Muna. Berbekal semangat belajar dan keberanian membaca peluang, ia membangun PT Kadsa Resources Maju, sebuah perusahaan yang kini menjadi jembatan antara produsen lokal dan pasar internasional.
“Awalnya kami hanya melihat potensi besar yang belum tergarap maksimal,” ujar Jafal mengenang awal perjalanannya.
Bagi Jafal, bisnis bukan semata soal keuntungan, tetapi tentang membuka harapan dan memperluas peluang bagi masyarakat di kampung halamannya.
Momentum penting datang saat misi dagang yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dari forum itulah, Jafal dipertemukan dengan UD Bombana Zakir Group, produsen arang tempurung kelapa dari Kabupaten Bombana yang memiliki kapasitas produksi dan kualitas sesuai standar ekspor.
Kolaborasi itu menjadi bukti bahwa jejaring dan kepercayaan adalah kunci dalam dunia usaha.
“Kami sadar tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi antarpelaku usaha lokal justru menjadi kekuatan utama,” kata Jafal kepada mitranusantara.id
Pasar Cina, yang dikenal sangat selektif, ternyata membuka pintu lebar bagi arang tempurung kelapa asal Sultra. Permintaan yang stabil hingga 2.000 metrik ton per bulan menjadi tantangan sekaligus peluang besar. Tantangan karena dibutuhkan konsistensi kualitas dan kuantitas, peluang karena membuka lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Bagi Jafal, capaian ini bukan garis akhir. Ia justru mendorong pemuda Sultra untuk berani masuk ke sektor-sektor yang selama ini dianggap “biasa”.
“Potensi daerah kita luar biasa. Yang dibutuhkan hanya keberanian untuk memulai dan kemauan untuk bertahan,” ujarnya.
Ia juga berharap dukungan pemerintah, khususnya melalui fasilitasi ekspor langsung via Pelabuhan Bungkutoko, agar biaya logistik bisa ditekan dan daya saing produk lokal semakin kuat. Menurutnya, ketika pemerintah dan pelaku usaha berjalan beriringan, mimpi menembus pasar global bukan lagi hal yang mustahil.
Kisah ekspor arang tempurung kelapa ini menjadi pesan kuat bagi generasi muda, bahwa bisnis tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Dari tempurung kelapa, dari desa, dari keyakinan yang dijaga membuka jalan menuju pasar dunia bisa terbuka. Selama ada kemauan untuk belajar, berjejaring, dan tidak mudah menyerah, peluang selalu menunggu untuk ditemukan.
Laporan: Novrizal R Topa



