KENDARI, MITRANUSANTARA.ID– Pemerintah Kota Kendari mendorong pelestarian naskah kuno sebagai bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif, identitas budaya, sekaligus sumber pengetahuan sejarah masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Naskah Kuno yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari di Aula Samaturu Balai Kota Kendari, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan mengangkat tema “Naskah Kuno sebagai Salah Satu Warisan Budaya dan Sumber Informasi Sejarah”. Sebanyak 141 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari Perpustakaan Provinsi Sulawesi Tenggara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Kendari, camat dan lurah se-Kota Kendari, tenaga pendidik, pustakawan, komunitas budaya, pemerhati sejarah, pemilik naskah kuno hingga masyarakat umum.
Mewakili Wali Kota Kendari, Asisten III Sekretariat Daerah Kota Kendari Laode Abdul Manas Salihin mengatakan naskah kuno tidak sekadar benda lama yang disimpan, tetapi menyimpan pengetahuan, tradisi, pandangan hidup dan cara masyarakat terdahulu memahami lingkungan.
“Menjaga naskah kuno bukan sekadar menjaga benda lama. Kita sedang menjaga ingatan, pengetahuan dan bagian identitas budaya agar tidak terputus dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Menurutnya, naskah yang berkaitan dengan masyarakat Tolaki merupakan jejak penting perjalanan peradaban di Kendari. Karena itu, generasi muda perlu diperkenalkan dengan sejarah dan nilai budaya daerah agar pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada kemajuan infrastruktur, ekonomi dan teknologi, tetapi tetap memiliki akar budaya.
Ia juga menekankan pentingnya digitalisasi. Selain inventarisasi, pendataan, perawatan dan penelitian, teknologi dapat digunakan untuk mendokumentasikan naskah serta memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
“Digitalisasi bukan pengganti naskah kuno. Naskah fisik kita rawat sebagai warisan, sementara teknologi kita manfaatkan untuk memperluas akses terhadap pengetahuan yang terkandung di dalamnya,” katanya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Kendari Rukmana menjelaskan, sosialisasi tersebut antara lain bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang naskah kuno, memberikan edukasi mengenai tata cara perawatan dan perlindungan, mengenalkan nilai sejarah serta budaya, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam pendataan maupun pelestarian. Serta mendorong generasi muda agar mengenal dan mencintai warisan budaya daerah.
“Kegiatan ini juga mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendataan, pelestarian dan pemanfaatan naskah kuno,” jelasnya.
Sementara itu, narasumber Dr. M. Sabaruddin, S.H., M.Hum., mengungkapkan bahwa pelestarian pengetahuan masa lalu tidak selalu mudah. Ia mencontohkan penelusuran pengetahuan masyarakat Tolaki dalam mengolah cangkul yang dahulu diwariskan secara lisan.
Menurutnya, terdapat mantra dan pengetahuan khusus yang menyertai proses tersebut, namun semakin sulit menemukan orang yang masih menguasainya. Dari penelusuran bersama Dr. Basrin Melamba, pengetahuan tersebut akhirnya berhasil diamankan dalam bentuk buku, lengkap dengan alat yang digunakan. Namun, buku itu hanya dicetak sekitar 20 eksemplar karena keterbatasan anggaran.
Sabaruddin mengatakan, upaya tersebut dilakukan secara mandiri. Ia bersama Basrin bahkan menyisihkan sebagian penghasilan setiap bulan untuk biaya penelitian dan penelusuran informan ke berbagai lokasi.
Dorongan itu, lanjutnya, muncul karena masih banyak pengetahuan masyarakat Tolaki yang tersimpan dalam ingatan maupun manuskrip dan belum terdokumentasikan. Beberapa hasil penelusuran telah diwujudkan menjadi buku, di antaranya, tentang Sagu, Taawu, teknologi besi masyarakat Tolaki, serta tanah adat Siwoleuwo.
Penelusuran sumber juga dilakukan hingga koleksi manuskrip yang tersimpan di luar negeri. Sebagian diperoleh dari naskah yang dibawa Basrin saat berada di Belanda, sementara sumber lainnya ditelusuri melalui koleksi digital museum di Belanda dan Jerman.
“Buku kalau dibeli baru tidak dibaca juga tidak ada gunanya. Pengetahuan masa lalu harus diangkat menjadi karya agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Sabaruddin.
Dalam penelurusannya, bersama Basrin Melamba, mereka telah menemukan sekitar 200 manuskrip naskah kuno.
Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Kendari juga menerima penyerahan buku dari penulis sebagai bagian dari upaya memperkaya koleksi dan sumber pengetahuan mengenai sejarah serta budaya daerah.
Pemkot Kendari berharap kegiatan ini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk memastikan naskah kuno tetap terjaga, terdokumentasi dan dipelajari, sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda.
Penulis: Sumarlin





